
Muara Bulian, MTsN 1 (TIM WEB) --- Peci, kopiah, atau songkok telah lama menjadi identitas khas pria di Indonesia. Namun, di balik penggunaannya yang masif, penutup kepala berwarna hitam ini menyimpan sejarah mendalam dan makna filosofis yang kuat. Merujuk pada literatur Kementerian Agama (Kemenag) RI, peci sejatinya merupakan simbol kerendahan hati dan kesederhanaan bagi Muslim Nusantara.
Semangat filosofis inilah yang terus ditanamkan di lingkungan madrasah, salah satunya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Batang Hari. Penggunaan peci bukan sekadar formalitas seragam seremonial, melainkan bagian dari pembentukan karakter dan akhlak peserta didik.
Secara historis, peci memiliki akar kebudayaan yang panjang. Berdasarkan catatan sejarah yang kerap diulas Kemenag RI, penutup kepala sejenis kopiah diadopsi dari pedagang Arab dan India (disebut kufi atau fez). Namun, di tangan para ulama Nusantara dan tokoh bangsa, peci mengalami pribumisasi.
Sang Proklamator, Ir. Soekarno, adalah tokoh utama yang mengangkat derajat peci menjadi identitas nasional pada tahun 1920-an. Saat itu, Bung Karno menegaskan bahwa peci adalah simbol pergerakan rakyat kecik (marhaen) dan lambang nasionalisme yang mendobrak sekat-sekat kelas sosial peninggalan kolonial Belanda.
Bagi Muslim Nusantara, para ulama terdahulu mengadopsi peci sebagai pelengkap ibadah yang menyatukan unsur budaya lokal dengan syariat Islam.
"Peci hitam polos itu tidak memiliki 'puncak' atau menara. Filosofinya adalah merendahkan hati (tawadhu). Di hadapan Allah SWT, semua manusia berdiri setara, tidak ada yang berhak meninggikan diri."
Selain itu, warna hitam pada peci tradisional juga dimaknai sebagai pengingat akan kesederhanaan dan keteguhan iman. Menutup kepala saat beribadah atau beraktivitas sosial mencerminkan sikap menjaga kehormatan diri sekaligus menghormati orang lain.

Nilai-nilai luhur yang dirilis oleh Kemenag RI tersebut diimplementasikan secara nyata di MTsN 1 Batang Hari. Kepala MTsN 1 Batang Hari, Bapak Doni Parizal, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pembiasaan memakai peci bagi siswa laki-laki dalam kegiatan keagamaan dan upacara resmi adalah upaya merawat tradisi sekaligus membentuk mentalitas yang santun.
"Kami ingin para siswa paham bahwa peci yang mereka kenakan bukan sekadar pelengkap baju koko atau seragam. Ada tanggung jawab moral di sana. Ketika memakai peci, mereka sedang membawa identitas Muslim Nusantara yang ramah, sopan, dan rendah hati," ujarnya.
Dengan memahami sejarah dan maknanya, diharapkan generasi muda, khususnya siswa MTsN 1 Batang Hari, tidak hanya bangga mengenakan peci sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai kerendahan hati tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (28/05) (FD)
|
90x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...